“Kartini Muda TTS,Perjuangkan Hak-Hak Mu..”

          Peringatan terhadap upaya perjuangan hak perempuan yang dilakukan oleh Sosok Kartini, beratus tahun lalu, selalu diperingati tiap tahun, pada setiap tanggal 21 April. Ada beragam cara dan aktifitas yang dilakukan oleh Instansi pemerintah maupun swasta, baik dari Ibukota sampai ke desa-desa. Peringatan tersebut pada tiap tahunnya mengusung tema berbeda-beda. Makna tema yang diusung sangat luas, namun tidak seluas realita harapan yang diimpikan oleh Kartini.

          Masih menjadi pertanyaan saat ini apakah kaum perempuan sudah mendapatkan haknya dengan maksimal dalam bidang pendidikan, kesehatan dan sebagainya??Kenyataannya sampai saat ini, masih banyak kaum perempuan Indonesia yang termarginalkan. Potret keprihatinan perempuan Indonesia diperburuk dengan fakta bahwa 35 juta penduduk miskin terdiri dari kaum wanita. Selain itu alokasi APBN dan APBD yang rendah pun belum berpihak pada perempuan, belum lagi banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, traficking, pemerkosaan dan lain sebagainya.

          Kondisi yang sama juga terjadi di SoE – Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), salah satu Propinsi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Peringatan Hari Kartini tahun 2011 di TTS ini diwarnai dengan makin tingginya angka KDRT, pemerkosaan dan angka kematian ibu (AKI).

          Tulisan ini lebih banyak mengulas tentang AKI secara umum di Kabupaten TTS. AKI sampai saat ini masih menjadi perhatian utama Propinsi NTT. Penyebab langsung kematian ibu dikarenakan pengetahuan masyarakat kurang, persalinan masih ada yang dilakukan di rumah dengan dukun, terbatasnya sarana dan prasarana kesehatan , terbatasanya akses layanan kesehatan dan minimnya dukungan dari Pemangku kewajiban di tingkat desa. Pemerintah Propinsi NTT telah mengucurkan program Revolusi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang mana diharapkan kematian ibu saat melahirkan bisa menurun bahkan tidak ada lagi. Bahkan di Kabupaten TTS sudah dibuatkan produk hukum dalam sebuah Instruksi Bupati tentang Pelaksanaan Revolusi KIA, dimana semua ibu hamil harus melahirkan di rumah bersalin dan wajib ditolong oleh tenaga kesehatan.

          Data AKI di Kabupaten TTS tiap tahun terus meningkat. Pada tahun 2009 jumlah kematian ibu melahirkan sebanyak 59 orang dengan rincian kematian ibu hamil : 4,3 %, Kematian Ibu Melahirkan : 71 %, kematian ibu nifas : 23,7 % dan kematian ibu menyusui : 1,7 %. Kematian ini diakibatkan oleh perdarahan : 57,6 %, Infeksi : 13,5 %, Eklamsi : 2,0 % dan lain –lain : 23,9 % (Data Profil Dinkes TTS,2009).

          Akibat lain-lain sebesar 23,9 % diatas beberapa diantaranya karena lambannya keputusan keluarga untuk membawa ibu ke sarana kesehatan seperti rumah bersalin, hanya karena masih menunggu keputusan suami. Alangkah sedihnya, bahwa Hak hidup seorang ibu berada di tangan suaminya. Betapa egoisnya sang suami yang sudah terbentuk oleh budaya keluarga turun temurun, padahal ibu punya hak untuk menentukan hidupnya , melahirkan dengan selamat dan bisa membawa pulang bayi mungil harapan hidupnya di masa tua.

          Banyak permasalahan yang memposisikan kaum perempuan dan kaum ibu bahkan anak perempuan pada posisi yang lebih lemah dan tidak diprioritaskan dibanding anak laki-laki dan kaum lelaki dewasa. Hal ini setelah digali adalah lebih banyak disebabkan karena faktor budaya turun temurun, namun bukan berarti tidak bisa dirubah. Sebab secara adat tidak akan menyebabkan karma dan sebagainya yang dapat mencelakakan keluarga dan yang bersangkutan bila budaya itu dilanggar. Sebab di TTS ada kepercayaan bahwa bila suatu adat dilanggar maka keluarga akan terkena dampaknya, dan yang bersangkutan harus melakukan ”NAKETI” atau pertobatan pada leluhur karena telah melanggar perintah leluhur.

          Manusia lahir dari suatu budaya dan peradaban. Banyak cara yang dapat dilakukan dengan tanpa menghilangkan budaya yang masih punya nilai positif. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah terus melakukan pendekatan pada tokoh adat dan tokoh masyarakat yang disegani di desa agar dapat membantu membawa perubahan dalam kehidupan mereka. Selain itu motivasi yang sangat sering pada masyarakat, lewat program yang perspektif gender, bisa melahirkan pion-pion Gender di desa yang bisa membantu untuk mengubah lingkungan mereka menjadi lingkungan yang setara gender serta mendukung pemenuhan hak-hak perempuan termasuk hak ibu untuk melahirkan.
          Dari sekian laki-laki dewasa berkeluarga di desa-desa, sebagian kecil orang yang dapat dihitung dengan jari dapat melakukan hal tersebut dalam keluarganya bagi Kartini-kartini hatinya (anak perempuan dan istrinya). Mereka pun dapat menjadi contoh di masyarakatnya bagaimana berbagi peran dan mendukung istri untuk mendapat kesehatan dan penghidupan yang lebih baik. Mereka yang masuk dalam kelompok yang dapat dijadikan pion gender dalam keluarga dan masyarakat saat diwawancarai mengatakan :” Berbagi peran dengan istri bukanlah sebuah hal yang tabu untuk dilakukan. Saat istri melahirkan, kami harus siap memandikan istri, memandikan bayi, mengurus keperluan anak bahkan memasak. Saat istri sehat pun, kegiatan ini tetap rutin dilakukan. Kalau ada kegiatan diluar, harus tetap mendahulukan keperluan istri dan anak, agar meninggalkan mereka dalam keadaan nyaman, dan beraktifitas dengan mitra tanpa beban keluarga. Prinsipnya adalah kesepakatan berbagi peran, bukan mengambil alih kodrat.”
          Bila hal ini diterapkan juga oleh keluarga lain serta ditunjang dengan perhatian dari pemerintah pada tiap sisi program untuk memenuhi hak perempuan, maka Kartini- kartini muda di Kabupaten TTS bisa lebih siap berperan dalam kehidupan keluarganya ke depan, karena lebih paham dan bisa memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan dan calon ibu. Maknailah hari Kartini dengan jiwa perjuangan Kartini yang sebenarnya.

SELAMAT HARI KARTINI
Soe – Timor Tengah Selatan,NTT: 20 April 2011

Tentang Siti Rahmah

Saat ini saya berada di Kota Soe-Kab Timor Tengah Selatan (TTS),Propinsi NTT. Saya bekerja sebagai Nutrition Project Officer - CMNP (Community Managed Nutrition Project) di LSM International yang memperjuangkan pemenuhan hak-hak anak yaitu Plan International Indonesia. Tulisan yang saya posting dalam Blog pribadi ini adalah tentang pengalaman pribadi juga pandangan saya tentang apa yang sudah dilakukan oleh Plan di wilayah Kab Timor Tengah Utara (TTU) dan Kab Timor Tengah Selatan (TTS). Silahkan mengunjungi blog saya di : zetyrahmah2510.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di categorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s